KAPUAS HULU, SP - Pagi baru saja menyapa Putussibau ketika Syifa mulai sibuk di dapur sederhana rumahnya di Desa Kedamin Hilir.
Belasan kilogram ikan toman segar hasil tangkapan perairan Kapuas Hulu telah menunggu untuk diolah menjadi kerupuk basah atau temet, kuliner khas yang telah lama menjadi identitas masyarakat Bumi Uncak Kapuas.
Tangannya cekatan memisahkan daging ikan dari duri. Daging ikan kemudian dicampur dengan tepung kanji dan bumbu sederhana sebelum diuleni hingga kalis.
Aroma ikan segar memenuhi ruangan saat adonan dibentuk memanjang dan dimasukkan ke dalam kukusan.
“Kalau ikannya bagus, hasil kerupuknya juga beda. Makanya bahan baku harus benar-benar dipilih,” kata Syifa saat ditemui Suara Pemred di rumah produksinya, Minggu (31/5/2026).
Bagi masyarakat Kapuas Hulu, kerupuk basah bukan sekadar makanan. Kuliner ini lahir dari kehidupan masyarakat sungai yang sejak lama bergantung pada hasil perairan.
Meski sekilas menyerupai pempek lenjer dari Palembang, kerupuk basah memiliki karakter tersendiri dengan rasa ikan yang lebih kuat dan biasanya disajikan bersama sambal kacang khas yang gurih dan pedas.
Di antara banyak perajin kerupuk basah di Kapuas Hulu, nama Kerupuk Basah Asyifa menjadi salah satu yang cukup dikenal. Namun perjalanan usaha itu tidak dibangun dalam semalam.

Belasan tahun lalu, Syifa hanyalah seorang pekerja di usaha kerupuk basah milik orang lain. Dari sanalah ia belajar mengenali kualitas ikan, meracik adonan, hingga memahami proses produksi dari awal sampai akhir.
“Dulu saya kerja ikut orang. Sambil bekerja saya perhatikan cara membuatnya. Lama-lama belajar sendiri sampai akhirnya berani buka usaha,” kenangnya.
Berbekal pengalaman dan keberanian, ia kemudian memulai usaha rumahan dari dapurnya sendiri. Produksi dilakukan dalam skala kecil. Sedikit demi sedikit pelanggan berdatangan.
“Awalnya cuma buat memenuhi pesanan tetangga dan kenalan. Setelah itu mulai banyak yang datang karena saling merekomendasikan,” ujarnya.
Kini kerupuk basah buatannya menjadi salah satu oleh-oleh yang banyak dicari wisatawan yang berkunjung ke Kapuas Hulu.
Jejak perjalanan usaha itu terlihat dari deretan foto yang menghiasi ruang tamu rumah produksi.
Berbagai tokoh pernah mampir dan mencicipi langsung kerupuk basah buatannya, mulai dari Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan bersama sang istri, Erlina Ria Norsan, Ketua Komisi V DPR RI Lasarus, Ketua Dekranasda Kapuas Hulu Angelina Fermaco, hingga sejumlah tamu dari luar daerah.
“Termasuk artis Dewi Perssik pernah datang ke sini waktu kegiatan kampanye pada 2024,” katanya sambil menunjukkan salah satu foto yang terpajang di dinding.
Meski demikian, bagi Syifa, yang paling membahagiakan bukanlah banyaknya tokoh yang datang berkunjung.
“Yang penting pelanggan puas dan datang lagi. Itu yang membuat kami semangat terus produksi,” ujarnya.
Lokasi rumah produksinya yang berada di Jalan Lintas Kalimantan Poros Utara-Selatan membuat usaha tersebut mudah ditemukan para pelintas.
Tidak sedikit pengendara yang sengaja berhenti untuk menikmati temet hangat yang baru diangkat dari kukusan.
Perkembangan teknologi juga ikut memperluas pasar. Melalui media sosial dan layanan pengiriman, kerupuk basah Kapuas Hulu kini dapat dinikmati masyarakat dari berbagai daerah.
“Sekarang banyak pesanan dari luar Kapuas Hulu. Ada yang dari Pontianak, Sintang, bahkan luar Kalbar. Biasanya kami kirim dalam kemasan vakum supaya tahan lebih lama,” jelasnya.
Tidak banyak yang tahu, perkembangan usahanya semakin terbantu setelah memperoleh akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro BRI.

Dukungan tersebut membuat kapasitas produksi meningkat. Omzet usaha yang sebelumnya berkisar Rp7 juta hingga Rp10 juta per bulan kini bertumbuh menjadi sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan.
“Modal tambahan sangat membantu. Kami bisa menambah produksi dan memenuhi pesanan yang semakin banyak,” kata Syifa.
Kelezatan kerupuk basah juga meninggalkan kesan bagi para pendatang. Salah satunya Abdul Wesi, jurnalis senior asal Pontianak yang berkesempatan mencicipinya saat bertugas di Kapuas Hulu.
“Selama ini saya sering dengar cerita tentang kerupuk basah Kapuas Hulu. Begitu mencobanya langsung, saya paham kenapa makanan ini begitu terkenal. Rasa ikannya terasa kuat, teksturnya kenyal, dan sambal kacangnya benar-benar melengkapi,” ujarnya.
Menurut Abdul, yang menarik bukan hanya cita rasanya.
“Ada cerita panjang di balik makanan ini. Kita bisa merasakan bagaimana masyarakat Kapuas Hulu menjaga tradisi kuliner yang lahir dari kehidupan sungai,” katanya.
Menjelang siang, aktivitas di rumah produksi Syifa semakin ramai. Beberapa pekerja terlihat sibuk mengemas pesanan, sementara kukusan besar di sudut dapur terus mengeluarkan uap panas.
Di atas meja, batang-batang kerupuk basah yang baru matang tersusun rapi menunggu untuk dipotong dan dikemas.
Syifa sesekali melayani pembeli yang datang, lalu kembali memeriksa proses produksi. Rutinitas itu hampir setiap hari dijalaninya selama bertahun-tahun.
“Selama masih ada yang suka makan kerupuk basah, kami akan terus bikin,” katanya sambil tersenyum.
Dari dapur sederhana di Kedamin Hilir itu, Syifa tidak hanya menjual makanan khas daerah.
Ia ikut menjaga cita rasa yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kapuas Hulu, sekaligus membuktikan bahwa usaha yang tumbuh dari ketekunan dapat membawa manfaat bagi banyak orang. (aep mulyanto)